ProgramInovasi SARMA PUSPA merupakan program yang bertujuan untuk mewujudkan prinsip FIFO (First In First Out) FEFO (First Expired First Out) dalam kefarmas
Obatobatan emergensi tersedia dimonitor aman bilamana disimpan di luar farmasi. Salam sukses SEDIA DOKUMEN AKREDITASI PUSKESMAS TERBARU. Proses perencanaan dilakukan dengan memperhitungkan pemakaian selama 18 bulan ditambahkan 20 nya untuk buffer stock dan waktu tunggu obat. Puskesmas Danurejan II juga menyediakan pelayanan ambulanceG.
MAUMERE- Menerapkan tiga program inovatif dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien, menghantarakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Lekebai, Kecamatn Mego, Kabupaten Sikka meraih peringkat Madya dalam akreditasi yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI pada 2017.
Penelitianini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana proses difusi inovasi dalam program e-health di Puskesmas Kalijudan Kota Surabaya. Difusi inovasi dipilih karena program e-health merupakan inovasi atau ide baru dalam bidang pelayanan kesehatan.
WARTAWAN BAROMETERNEWS.ID ADALAH MEREKA YANG NAMANYA TERDAFTAR DI APLIKASI "CEK ID CARD" DI BAGIAN BAWAH MEDIA INI# #BAROMETERNEWS.ID TIDAK MEMUNGUT BIAYA UNTUK PUBLIKASI RILIS KEGIATAN MASYARAKAT, SOSIAL DAN KEAGAMAAN# #REDAKSI : WA NO. 0838-5739-0929 / 0895-1256-1532# - Tim Farmasi Puskesmas Kecamatan Cakung menciptakan inovasi yang
Penelitiandilakukan dalam waktu 3 bulan di 63 Puskesmas kota Surabaya dengan responden 63 dokter. Instrumen yang digunakan "Kuesioner Kolaborasi Dokter" yang meliputi variabel bebas (karakteristik pertukaran dengan domain kepercayaan, hubungan inisiasi dan peran spesifikasi) dan variabel terikat (praktik kolaborasi).
.
Algo que vem chamando atenção no Brasil e no mundo é a aplicação da tecnologia na indústria farmacêutica. Os novos recursos estão se tornando essenciais para o avanço desse mercado, que ganhou ainda mais relevância na pandemia da Covid-19. Por conta do surgimento do novo coronavírus, as indústrias farmacêuticas iniciaram uma verdadeira corrida para descobrir fórmulas de vacinas e medicamentos que possam agir contra o agente infeccioso. Além da produção das vacinas e medicamentos, a tecnologia na indústria farmacêutica também se desenvolve no campo logístico. É nessa área que atua a Sinteco Healthcare, multinacional italiana que oferece soluções para instituições hospitalares. Conversamos com José Marcuci, gerente de aplicações e vendas da empresa italiana. Ele nos contou um pouco mais sobre as inovações e a tecnologia na indústria farmacêutica. Acompanhe! A tecnologia na indústria farmacêutica Marcuci afirma que a tecnologia na indústria farmacêutica tem como uma de suas principais vertentes a promoção da rastreabilidade dos medicamentos, desde a produção até o uso no paciente. Ele cita como exemplo os serviços oferecidos em sua organização “As soluções da Sinteco Healthcare têm como foco a gestão dos medicamentos que são administrados aos pacientes nos hospitais e, para isso, utiliza um conceito de serialização em todas as doses com controles nas diferentes etapas da logística interna”. A aplicação desse conceito, que só é viável por conta dos recursos de automação, é um ponto-chave para permitir às instituições a obtenção total da rastreabilidade dos medicamentos dispensados. Para Marcuci, os avanços tecnológicos no segmento farmacêutico apontam para um cenário onde as empresas e as soluções envolvidas estejam totalmente interligadas. Por conta disso, o mercado está evoluindo para que as operações sejam realizadas em sua totalidade, de forma global e não isolada. “A tecnologia da informação e a robotização certamente serão ferramentas fundamentais para a construção desse cenário”, analisa o especialista. Impactos da pandemia da Covid-19 no mercado farmacêutico Assim como aconteceu em outras áreas, a pandemia da Covid-19 acelerou a tecnologia na indústria brasileira. As soluções de automação e robotização começaram a ser utilizadas para tornar mais ágeis os processos, que agora demandam menor intervenção humana. “Em tempos críticos, nos quais os hospitais estão com sua capacidade máxima de ocupação, o uso da automação e dos robôs pode ajudar os profissionais de saúde que trabalham na linha de frente a dedicarem mais tempo ao assistencialismo”, explica Marcuci. Desafios e projeções para o futuro do segmento No que se refere às tendências e projeções para a tecnologia na indústria farmacêutica, Marcuci aponta que, por ora, devem seguir sendo desenvolvidas soluções com foco, principalmente, no combate à pandemia. “A necessidade de atendimento a distância, proteção das equipes que trabalham na linha de frente e o controle preciso de inventários de medicamentos e insumos nas instituições de saúde por todo o país são alguns dos desafios que tornaram-se mais acentuados na pandemia”, sintetiza. O especialista também explica que as tecnologias inovadoras que surgiram por conta da pandemia seguirão sendo usadas mesmo quando esse cenário caótico terminar. Dessa maneira, a forma como os pacientes são atendidos e a utilização dos serviços farmacêuticos, de modo geral, deve sofrer impactos positivos, com maior utilização da tecnologia. Os avanços da tecnologia farmacêutica, atualmente, estão com foco no combate ao coronavírus. Veja mais sobre o assunto em nosso artigo que apresenta startups brasileiras que se destacam com inovações para frear a pandemia.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. MEWUJUDKAN INOVASI PELAYANAN KESEHATAN PADA TEKNOLOGI DIGITALInovasi bukan lagi hal baru di sektor publik. Namun dalam praktiknya, inovasi sektor publik sangat dipengaruhi oleh praktik inovasi sektor swasta. Inovasi yang berhasil oleh sektor swasta merupakan motivator yang hebat bagi sektor publik untuk mengembangkan berbagai jenis inovasi. Untuk itu, inovasi di sektor publik dipandang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. Inovasi sektor publik sangat mirip dan sering dikaitkan dengan perubahan atau reformasi pemerintah. Hal ini biasa dikenal dengan konsep New Public Management NPM dan konsep e-Government. Di Indonesia saat ini inovasi dalam sektor publik erat kaitannya dengan adopsi konsep e-government dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Konsep inovasi dalam sektor publik tersebut mulai dipraktikkan di berbagai negara berkembang karena adanya perkembangan teknologi canggih yang pesat. Konsep inovasi di sektor publik Dengan perkembangan teknologi yang maju, hal tersebut dipraktekkan di berbagai negara berkembang. dengan cepat. Konsep inovasi di negara berkembang berkaitan dengan adopsi atau rekrutmen Penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi atau TIK dalam sistem administrasi publik Pemerintah. Dengan adanya kemajuan teknologi yang dibawa dan dikenalkan dari negara maju, menyebabkan adanya perubahan yang terlihat dari sistem pelayanan yang mulai begeser menjadi lebih modern uga melalui penciptaan ide atau gagasan baru, tetapi lebih banyak melalui proses. Proses inovasi dalam sektor publik di negara berkembang jdopsi inovasi yang sudah ada. Di beberapa negara berkembang, inovasi dianggap sebagai penggunaan teknologi yang canggih ke dalam administrasi publik yang dikenal sebagai konsep egovernment. Pemahaman inovasi di Indonesia dapat dilihat dari berbagai penerapan inovasi yang dilakukan di semua lini pemerintah. Hampir semua instansi pemerintah, memahami inovasi sebagai adopsi penggunaan TIK kedalam proses administrasi publik yang dikenal dengan konsep e-government. Keterkaitan inovasi dengan egovernment dapat terlihat dari penerapan TIK pada lingkungan instansi pemerintah dalam menyediakan pelayanan publik secara elektronik e-government. Meskipun demikian juga terdapat beberapa instansi yang memahami inovasi bukan hanya sekedar penggunaan TIK dalam administrasi publik. Kondisi pelaksanaan e-government di Indonesia masih sangat bervariasi, meskipun dalam peraturan dijelaskan bahwa pelaksanaannya dapat dilakukan dengan berbagai bentuk kerjasama. Hal ini terlihat dari perhatian pemerintah dalam pengembangan egovernment masih terpusat pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dimana pendefinisian e-goverment oleh pemerintah masih sebatas website. Oleh karena itu pada awal pelaksanaan e-government masih cenderung dimaknai sebagai penyediaan website, meskipun dewasa ini sudah berkembang dengan berbagai aplikasi. Adapun implementasi, hal-hal terlihat sangat baik dalam persiapan atau produksi. Ini berarti bahwa hampir semua otoritas memiliki situs web dan proses pembaruan informasi yang berkelanjutan. Namun berdasarkan data yang ada, baik di tingkat pusat maupun daerah, ada beberapa website negara yang salah kelola secara Dewasa ini merupakan perkembangan konsep e-health bukan hanya menfokuskan pada pelayanan medis di Rumah Sakit saja, melainkan pada kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan yang dilakukan di Puskemas. Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya Peraturan Menteri Kesehatan No 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat /Puskesmas. Menjangkau seluruh masyarakat memerlukan program Sistem Informasi Manajemen Puskesmas atau SIM Puskemas yang terintegrasi dengan baik melalui berbagai kegiatan pelaksanaan. Dalam program SIM Puskesmas terdapat empat bentuk kegiatan pelaksana antara lain sistem pendaftaran pasien, sistem rekam medis pasien, sistem pengobatan atau farmasi dan sistem pembayaran. Dalam mempemudah dalam melaksanakan kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan di Puskemas, setiap daerah mulai mengembangkan berbagai bentuk strategi atau inovasi. Kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan disetiap Puskesmas sebelumnya dilakukan dengan cara manual atau tradisional. Kelemahan dalam penggunaan cara manual atau tradisional menjadi tantangan bagi setiap Puskesmas untuk melakukan pengembangan strategi. Dewasa ini di berbagai daerah mulai mengembangkan berbagai strategi yang memanfaatkan TIK dalam melakukan kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan di Puskesmas. Dinas Kesehatan berhasil mengembangkan strategi yang memanfaatkan TIK dalam melakukan kegiatan pelaksana pelayanan kesehatan di Puskesmas yang dikenal dengan aplikasi SIMPUS / Sistem Informasi Manajemen Puskesmas. Aplikasi SIMPUS merupakan salah satu bentuk inovasi dalam sektor publik yang menfokuskan pada bidang kesehatan di daerah yang dapat mengakomodir semua kegiatan pelaksanaan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Meskipun keberadaan aplikasi SIMPUS melalui berbagai tahap pengembangan. Kemunculan inovasi dalam sektor publik ini sebagai bentuk komitmen Pemerintah Daerah dalam menerapkan Undang-undang No 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah yang termuat dalam pasal 386 tentang Inovasi Daerah. Dalam keseriusannya menerapkan undang-undang ini secara optimal dalam berbagai bentuk inovasi di berbagai sektor. Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
› Opini›Inovasi Farmasi-Alat Kesehatan Ada kesempatan dalam kesulitan. Pandemi Covid-19 ini membuka peluang bagi kita untuk meraih kesempatan menjadi lebih mandiri akan kebutuhan farmalkes. Bukan sekadar mengurangi ketergantungan impor juga menjaga devisa. OlehBambang PS Brodjonegoro 7 menit baca Kompas/Hendra A Setyawan Dukungan untuk tenaga medis yang bekerja di garda terdepan penanganan pandemi Covid-19, terus digemakan masyarakat melalui beragam cara, seperti mural yang dibuat Roy, warga Kinayungan, Pondok Kacang Barat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu 16/5/2020. Mural tersebut melukiskan perjuangan melawan virus ini dunia sedang kalang-kabut dilanda pandemi Covid-19. Boleh dikatakan, tidak ada satu negara pun yang luput, dan semua berperang melawan musuh tidak kasatmata yang bernama virus sayang, tindakan dari setiap negara tampaknya belum terorkestrasi dengan baik. Organisasi Kesehatan Dunia WHO pun tampak gamang. Soal data dan informasi, misalnya, ada keraguan terhadap apa yang disampaikan China sebagai negara pertama yang terjangkit wabah ini. Soal alat kesehatan alkes, seperti masker, sarung tangan, dan terutama ventilator, terjadi persaingan antarnegara karena semuanya membutuhkan, sementara pasokan terbatas. Bahkan di Amerika Serikat AS, antarnegara bagian pun seperti bersaing. Dan masih ada setumpuk persoalan lainnya. Yang terlihat seragam dilakukan dunia adalah pembatasan interaksi sosial. Ini tentu hal positif karena berperan besar dalam memutus mata rantai penyebaran virus. Di samping itu, ada berbagai upaya dari banyak negara untuk menemukan vaksin dan obat dari Covid-19. Sejauh ini, menurut kabar, sudah ada enam negara yang mencoba vaksin Covid-19 kepada manusia, yakni AS, China, Rusia, Inggris, Jerman, dan Australia. Kita menangkap nuansa perlombaan untuk menjadi yang terdepan di sini. Demi kemanusiaan, semua upaya ini tentu baik. Namun, kita juga mesti ingat bahwa butuh waktu lama untuk memperoleh hasil yang menangkap nuansa perlombaan untuk menjadi yang terdepan di di Indonesia?Di negeri ini wabah Covid-19 sudah berlangsung dua setengah bulan, terhitung sejak pengumuman kasus pertama awal Maret 2020. Namun, sebagaimana terjadi di negara-negara lain, sistem layanan kesehatan kita pun kewalahan. Di tengah-tengah kegalauan karena belum adanya senjata untuk menghadapi peperangan ini, satu kenyataan pahit ini membuka mata kita bahwa Indonesia ternyata mengimpor sebagian besar lebih dari 90 persen alkes dan bahan baku untuk obat-obatan. Artinya, industri farmasi dan alat kesehatan farmalkes kita amat bergantung kepada luar negeri. Konon ini sesungguhnya fenomena yang sudah berlangsung lama dan telah menjadi keprihatinan sebagian Personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara mengangkut alat pelindung diri dari sebuah pesawat Hercules di Pangkalan Udara Iskandar Muda Banda Aceh, Provinsi Aceh, Jumat 10/4/2020. Alat pelindung diri berupa baju khusus paramedis dan masker yang dikirimkan oleh Kementerian Kesehatan RI itu akan didistribusi kepada rumah sakit dan karena ini terungkap di saat kita punya kebutuhan farmalkes yang mendesak, sontak membuat mata kita terbelalak. Kenyataan pahit ini muncul di saat seluruh perhatian kita sedang tercurah kepada bagaimana harus bersaing bahkan berebut dengan negara lain untuk mendapatkan alkes dan ini tentu sangat merisaukan karena ketergantungan farmalkes yang begitu besar kepada luar negeri mencerminkan bahwa kondisi health security kita rapuh. Kita seperti tidak berdaulat di bidang diketahui bahwa sekitar 94 persen dari alkes kita pada 2019 diperoleh dari impor dengan nilai berkisar Rp 26 triliun. Sebagian besar alat yang diimpor itu berteknologi tinggi, seperti ventilator infusion pump, high flow oxygen device, alat operasional digital dan portabel, peralatan kesehatan elektronik, serta reagen dan preparat untuk industri farmasi obat-obatan kita pun mendatangkan 95 persen bahan bakunya dari luar negeri. Terbanyak dari China 60 persen dan India 30 persen. Nilai impor bahan baku ini tahun lalu mencapai 2,7 miliar dollar AS atau lebih dari Rp 40 Indonesia juga mengekspor alkes dan obat-obatan, nilai dan kategorinya kurang sepadan dibandingkan impor. Sebagian dari alkes dan obat-obatan yang kita ekspor pun bahan bakunya dari luar negeri. Kita hanya bertindak sebagai ”tukang jahit” atau assembly saja di sini. Artinya, nilai tambah lebih banyak di luar hanya bertindak sebagai ”tukang jahit” atau assembly saja di sini. Artinya, nilai tambah lebih banyak di luar adakah peluang bagi kita untuk mengurangi impor farmalkes yang nilainya signifikan tersebut?Jawabannya ternyata cukup menggembirakan. Pandemi ini ternyata juga telah membuka mata kita bahwa industri dan inovasi lokal cukup punya potensi menghasilkan produk-produk farmalkes yang selama ini diimpor. Ada blessing in disguise di pandemi Covid-19 ini merebak di Indonesia, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Kemenristek/BRIN telah membentuk konsorsium yang terdiri atas berbagai lembaga pemerintah non-kementerian LPNK di bawah koordinasinya, seperti LIPI, BPPT, Batan, Lapan, dan Lembaga Biologi Molekular LBM Eijkman, plus beberapa perguruan tinggi, rumah sakit, BUMN, dan perusahaan swasta. Tujuannya adalah untuk membantu Gugus Tugas yang dibentuk pemerintah dalam menanggulangi pandemi Pengembangan riset dan inovasi untuk penanganan Covid-19Pada garis besarnya konsorsium ini menyokong Gugus Tugas dalam tiga hal. Pertama, membantu Kementerian Kesehatan dalam pengujian tes PCR atau swab test. Ini krusial karena punya akurasi yang tinggi dalam menentukan seseorang positif Covid-19 atau tidak. Yang pegang peran di sini adalah LBM Eijkman dan menghasilkan prototipe alat-alat kesehatan. Selain mampu menghasilkan alat pelindung diri, ternyata konsorsium hanya dalam 1,5 bulan kerjanya juga sudah menunjukkan kemampuan untuk menghasilkan mobile ventilator dan test kit. Kapabilitas untuk berinovasi ini sudah ada sejak lama yang belum tentu akan mendapat perhatian apabila tidak terjadi ventilator, misalnya, ITB dan UI ternyata sudah mampu membuat. Demikian juga BPPT. Prototipe dari ketiganya sedang diuji Balai Pengujian Fasilitas Kesehatan Kemenkes. Jika lolos, buatan BPPT sudah siap untuk diproduksi oleh PT LEN dan satu perusahaan swasta, dengan kapasitas 200 ventilator per minggu. Kabar terbaru yang menggembirakan, sudah ada empat yang lolos uji alat dan uji klinis oleh Kemenkes. Ini tentu sangat berarti di saat genting seperti ventilator, misalnya, ITB dan UI ternyata sudah mampu untuk test kit, ada dua macam yang sudah siap diproduksi. Tim yang terdiri dari BPPT, Bio Farma, dan satu perusahaan rintisan sudah siap memproduksi polymerase chain reaction PCR test kit sampai dengan per minggu. Kelebihannya dibandingkan barang impor, basis PCR test-kit ini berasal dari virus transmisi lokal. Untuk rapid test kit, tim yang terdiri dari BPPT, UGM, dan satu perusahaan sudah siap memproduksi sekitar buah awal Mei 2020 sehingga bisa mendukung dilakukannya tes massal yang sangat dibutuhkan dalam penanganan pengembangan alat tes PCR, alat tes diagnostik non-PCR, ventilator, serta unit laboratorium bergerak dengan bio safety level BSL 2 sedang dalam pengembangan yang nantinya ditargetkan untuk dapat melalui proses produksi massal dalam waktu Patria Gupta Purwarupa Simple and Low Cost Mechanical Ventilator buatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Gedung Robotika ITS, Surabaya, Jawa Timur, Selasa 7/4/2020.Ketiga, terkait pengobatan. Konsorsium berupaya menghasilkan vaksin, serum, suplemen, dan obat Covid-19. Untuk menghasilkan vaksin tentu perlu waktu. Namun, kita sebagai bangsa tetap harus berupaya. Seandainya pun negara lain terlebih dulu menemukannya, kita tentu mesti bisa untuk memproduksi prototipenya. Karena pada akhirnya nanti kita harus bisa memproduksi sendiri vaksin tersebut untuk memenuhi kebutuhan bagi ratusan juta rangka menekan tingkat kematian karena Covid-19, LBM Eijkman berkolaborasi dengan PMI sudah merencanakan pengambilan plasma convalescent dari pasien sembuh dan diberikan kepada pasien dengan kondisi berat. Diharapkan antibodi dari pasien sembuh ini bisa membantu memerangi virus pada pasien-pasien yang sakit. Ini bisa dilakukan segera jika prosedur standar SOP dan protokol nasional sudah Eijkman juga sudah mulai melakukan penelitian untuk merancang calon antigen yang akan digunakan untuk penelitian vaksin. Untuk serum, setelah mendapat isolat virus, akan bisa diproduksi pada akhirnya nanti kita harus bisa memproduksi sendiri vaksin tersebut untuk memenuhi kebutuhan bagi ratusan juta suplemen dan obat, konsorsium sedang menguji berbagai obat dari bahan yang sepenuhnya bisa diperoleh dari dalam negeri. Misalnya pil kina, dan dari tanaman herbal yang banyak dijumpai di negeri ini, seperti jahe merah, sambiloto, dan jamu perkuat industriDari berbagai upaya yang dikoordinasikan Kemenristek/BRIN itu, benar-benar terungkap bahwa sesungguhnya negeri ini punya kemampuan yang baik untuk menghasilkan alat-alat kesehatan dan bahan baku obat-obatan. Inovasi lokal ternyata punya potensi yang cukup karena itu, kerja keras yang dilakukan untuk mengatasi pandemi ini juga semestinya bisa sekaligus dijadikan momentum untuk memperkuat industri dalam negeri, khususnya untuk alkes dan farmasi. Cukup besar peluang bagi kita untuk menekan impor dan mengisinya dengan produksi dalam LIPI Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia LIPI menghaluskan daun ketepeng badak Cassia alata dan benalu Dendrophthoe sp untuk diekstrak dan diambil zat aktifnya bagi pengembangan obat herbal antivirus penyebab saja yang dihasilkan Kemenristek/BRIN dan lembaga-lembaga di bawahnya baru berupa prototipe dari berbagai alkes dan obat-obatan. Perlu pelibatan dunia usaha dan industri untuk bisa menghasilkannya dalam skala besar. Yang tak kalah penting, untuk hilirisasi inovasi ini, sangat dibutuhkan dukungan dari regulator dan end-user-nya, yakni kementerian dan lembaga terkait. Jalan itu sudah dirintis dengan pembentukan konsorsium tersebut yang di dalamnya juga termasuk BUMN dan nantinya segala upaya konsorsium ini terbukti efektif menopang penanggulangan wabah Covid-19, dukungan dari berbagai pihak terhadap penguatan industri dalam negeri pasti akan mengalir deras. Dengan demikian, berbagai inovasi lokal semestinya bisa segera diarahkan untuk diproduksi secara demikian, berbagai inovasi lokal semestinya bisa segera diarahkan untuk diproduksi secara massal.
– Di tengah era disruptif pelayanan kesehatan Indonesia, dibutuhkan inovasi farmasi klinik untuk meningkatkan kualitas terapi obat dalam pelayanan kesehatan. Selain penerapan teknologi, dibutuhkan eksistensi sumber daya manusia profesi apoteker mengingat profesi ini merupakan garda terdepan dalam mengawal terapi obat yang efektif dan efisien. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Keri Lestari, Apt. dalam Prosesi Pengukuhan dan Orasi Ilmiah Jabatan Guru Besar Prof. Keri dalam bidang Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jalan Dipati Ukur Nomor 35 Bandung, Jumat 6/12. Prof. Keri membacakan orasi ilmiah berjudul “Inovasi Farmasi Klinik untuk Meningkatkan Kualitas Terapi Obat di Tengah Era Disruptif Pelayanan Kesehatan di Indonesia”. Dunia kesehatan di tanah air tak luput dihadapkan pada persoalan dan tantangan menghadapi era revolusi industri dan Selain pemanfaatan IoT, interaksi baru dalam bentuk kolaborasi antar profesi tenaga kesehatan interprofessional collaboration menjadi inovasi untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. Menurut Prof. Keri, hingga saat ini, pemenuhan tenaga apoteker di semua fasilitas kesehatan, terutama puskesmas, masih menjadi tantangan tersendiri bagi peningkatan kualitas pelayananan kesehatan. “ Inovasi Farmasi Klinik menginisiasi lahirnya model interaksi baru tim kesehatan yang lebih inovatif dan masif, yaitu penguatan kapasitas apoteker sebagai bagian penting tim pelayanan kesehatan dalam meningkatkan keamanan pasien patient safety dan kualitas pelayanan kesehatan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Prof. Keri yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Riset, Pengabdian Pada Masyarakat, Kerja Sama, dan Korporasi Akademik Unpad. Dikatakan Prof. Keri, dunia kesehatan di tanah air tak luput dihadapkan pada persoalan dan tantangan menghadapi era revolusi industri dan Selain pemanfaatan IoT, interaksi baru dalam bentuk kolaborasi antar profesi tenaga kesehatan interprofessional collaboration menjadi inovasi untuk pelayanan kesehatan yang lebih baik. “Dalam menghadapi tantangan tersebut, diperlukan adanya penguatan profesi apoteker sehingga eksistensinya tidak lagi diragukan bahkan dipertanyakan,” ujar Prof. Keri. Prof. Keri menjelaskan, keilmuan bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik mendasari kompetensi apoteker dalam pelayanan kesehatan dan penemuan obat baru. Melalui kajian Farmakologi, apoteker mengetahui bagaimana suatu bahan kimia/obat berinteraksi dengan sistem biologis, khususnya mempelajari aksi obat di dalam tubuh. Sedangkan kajian Farmasi Klinis mendasari interaksi apoteker dan pasien untuk mengoptimalkan terapi obat, meningkatkan standar kesehatan & kualitas hidup, kebugaran wellnes, dan pencegahan penyakit, sesuai filosofi asuhan kefarmasian atau pharmaceutical care. Berdasarkan pengalaman riset pengembangan obat baru dan pelayanan praktek kefarmasian, Prof. Keri mengungkapkan bahwa keilmuan farmasi yang berorientasi pasien patient oriented dan berorientasi produk product oriented saling melengkapi dalam praktek profesi Apoteker. “Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita sebagai apoteker dapat memilihkan produk yang paling cocok sesuai dengan kondisi pasien dilihat dari bentuk sediaan, rute pemberian obat, tipe obat, jumlah obat, dosis, jumlah obat yang diserap dan dimetabolisme, serta inetraksi obat,” ujarnya. Dengan adanya keterkaitan antara product oriented dan patient oriented dapat meningkatkan efektivitas obat sebagai produk dalam menyembuhkan pasien, dimana pengobatan akan lebih tepat sasaran dan user friendly. Salah satu penelitian Prof. Keri adalah pengembangan stevia sebagai minuman manis untuk pasien diabetes. Melalui uji aktivitas antidiabetes, teh stevia diketahui dapat mengendalikan kadar gula dalam darah. Ramuan herbal teh stevia ini telah dipatenkan dengan merk TehDia dan dihilirisasi bekerja sama dengan PT DPE serta mendapatkan izin edar dari BPOM. Penelitian lainnya yaitu pengembangan tablet ekstrak biji pala Myristica fragrans Houtt. sebagai antidiabetes dan antihiperlipidemia. Pengembangan obat baru ini telah dilakukan sejak tahun 2009, didukung oleh Kemenristekdikti dan Kementerian Kesehatan RI. Saat ini hasil penelitian tersebut telah tercatat di Kementerian Kesehatan sebagai bahan baku obat baru bekerja sama dengan PT Kimia Farma Tbk untuk selanjutnya dikembangkan dengan nama produk “Glucopala”. “Pengembangan nutrasetikal TehDia dan juga Kaplet Glukopala merupakan contoh penerapan ilmu farmakologi dan farmasi klinis yang tidak hanya berfokus pada pasien patient oriented tetapi juga pada produk product oriented. Product oriented juga tidak selalu berbicara tentang obat yang sifatnya kuratif, tetapi bisa juga mengarah ke pangan fungsional, karena pelayanan kesehatan bukan hanya berbicara tentang fenomena sakit,tetapi juga fenomena sehat,” ujar Prof. Keri. Sumber Prof. Dr. Keri Lestari, “Hadapi Era Disuptif, Inovasi Farmasi Klinik dan Penguatan Apoteker Dibutuhkan”
inovasi farmasi di puskesmas